Diya : Our Precious (I)




Bekasi, 8 April 2020

Setelah menulis tanggal di atas rasanya cukup mengejutkan. Hari ini (saat aku menulis ini), rupanya sudah tanggal 8 April 2020. Sudah 38 hari sejak tanggal 1 Maret 2020. Tanggal dimana seorang manusia kecil hadir di bumi ini meski dengan terpaksa. Manusia kecil dengan mata bulat, hidung mancung, bibir merah, dan manusia kecil itu kami beri nama “Dariya Nayanika Putri”.

Diya—begitulah kami memanggilnya— terpaksa harus dilahirkan tepat 4 minggu lebih cepat daripada perkiraan dengan alasan gawat janin. Dan semua cerita ini akan dimulai dipenghujung Februari 2020.

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman : 34)

the Breeze

Aku ingat benar hari itu hari Kamis (27/2), mama dan papa mertua datang ke Jakarta. Alasan utama kedatangan mertuaku saat itu adalah ingin menghadiri kondangan pada hari Sabtu dan Minggu, tentu saja sekalian menengok kami dan rumah baru kami di Bekasi.

Kedatangan mertuaku saat itu bertepatan dengan jadwal kontrol kandungan. Sebenarnya tidak sepenuhnya tepat sih, karena biasanya aku kontrol kandungan pada hari Jumat. Namun karena mertuaku datang maka sengaja aku majukan sehari sehingga mama mertuaku bisa menemaniku kontrol kandungan—mama mertuaku selalu excited menyambut cucu pertamanya!—.

Kedua mertuaku akan tiba di Jakarta melalui Bandara Halim sekitar pukul 16.30 WIB. Sejak pagi aku dan Dony (suamiku) sudah menyusun rencana: setelah jam kantor aku akan langsung ke rumah sakit menggunakan ojol; suamiku akan berusaha pulang lebih cepat dan menjemput orang tuanya dan selanjutnya akan menyusul ke rumah sakit. Dan sore itu semua berjalan sesuai rencana: aku tiba terlebih dahulu di rumah sakit dan langsung mendaftar untuk konsultasi, lalu sekitar setengah jam kemudian suami dan mertuaku datang.

Setelah menjalankan sholat maghrib, tidak lama kemudian aku mendapatkan panggilan untuk masuk ke ruang konsultasi. Seperti biasa, kami disambut oleh dokter kandunganku dan susternya.

Dokter kandunganku ini adalah seorang dokter perempuan senior yang cukup tegas dan keras. Beliau tidak segan-segan untuk mengomeli pasiennya jika pertanyaan kami “sedikit nyeleneh”. Untuk banyak orang bahkan beliau disebut galak. Namun karena beliau adalah salah satu dokter yang direkomendasikan oleh bidan dari Yakes kantor Dony, jadi yaaah terima saja. Lagipula beliau—menurut kami—lebih teliti dibanding dokter kandungan kami yang sebelumnya.

Saat itu kandunganku sudah menginjak usia 35 minggu 5 hari (dari HPHT) sehingga bu dokter mengukur lingkar perutku. Setelah selesai mengukur lingkar perut, beliau menggunakan fetal doppler untuk mengukur detak jantung janin dan dilanjutkan dengan melakukan USG.

Sejujurnya aku sangat tegang dengan hasil USG hari itu. Karena pada kontrol sebelumnya (minggu 33-34), dokter sempat menulis “suspect IUGR” atau pertumbuhan janin terhambat. Saat itu berat janin pada minggu 31-32 berada diangka 1600 gr dan tidak ada kenaikan diminggu 33-34. Sehingga setelah kontrol terakhir dokter meresepkan susu tinggi protein untuk mengejar kekurangan berat badan janin.

Ternyata hasil USG minggu itu tidak terlalu bagus. Selama dua minggu pertambahan berat badan hanya sebesar 250 gr—menjadi sekitar 1850 gr—. Padahal seharusnya diminggu tersebut berat badan janin sudah lebih dari 2000 gr. Sungguh ini pukulan yang hebat.

Setelah proses USG itu dokter menjelaskan panjang-lebar bahwa aku harus mengejar kekurangan berat badan janin karena jika tidak maka dapat berpotensi prematur maupun memiliki penyakit bawaan yang cukup serius. Dan karena hal tersebut dokter memberikan rujukan untuk melakukan perekaman CTG (Cardiotocography).

Sebenarnya ini merupakan proses perekaman CTG kedua yang aku lakukan. Pada kontrol kandungan yang sebelumnya dokter juga memerintahkanku untuk melakukan perekaman CTG. Setelah proses pengambilan perekaman CTG tersebut dokter tidak memberikan komentar apapun dan memperbolehkanku pulang.

“Ibu, sudah pernah CTG ya?” tanya bidan yang bertugas sembari memasang alat CTG ke perut buncitku.
“Iya bu, pas kontrol kemarin juga disuruh tes CTG.”
“Oh.. terus nggak dirujuk ke dokter feto?”
“Enggak tuh bu. Katanya bagus terus disuruh pulang,” jawabku dan hanya direspon anggukan oleh bidan itu.

Pada proses perekaman CTG kali ini aku ditemani oleh mama mertuaku. Selama proses perekaman CTG mama mertuaku berusaha menenangkanku dan memberikanku semangat agar dapat mengejar kekurangan berat badan janin.

Proses perekaman CTG memerlukan waktu 30-40 menit. Setelah proses perekaman CTG, bidan yang bertugas lalu menghubungi dokter kandunganku dan selanjutnya aku diperbolehkan pulang. Saat keluar kamar rekam CTG, kami berpapasan dengan dokter kandunganku, kami hanya bertegur sapa kecil dan berlalu.

Sesampainya di rumah, aku berdiskusi dengan Dony di kamar mengenai hasil pemeriksaan hari itu. Karena jujur saja omongan bidan di kamar rekam CTG sore itu sangat menggangguku. Aku merasa aneh dan heran kenapa dokter tidak memberikan tindak lanjut atau menyarankan untuk menemui dokter fetomaternal. Entah mengapa aku jadi merasa harus mencari second opinion mengenai hal ini. Untungnya Dony setuju dan kami memilih untuk mendatangi dokter fetomaternal—rekomendasi senior—di RS Hermina Bekasi hari Sabtu, 29 Februari 2020.


------------------------------------------------------------------------
Saat aku menulis ini, Diya putri cantikku, masih dalam kondisi tidur selama 33 hari. Aku hanya bisa berharap yang terbaik untuknya.

No comments:

Powered by Blogger.