Merah - Kuning - Hijau : Semua GO!



Saya masih ingat momen ketika saya dan suami (waktu itu masih pacar) berkendara menggunakan mobil di jalanan Kota Yogyakarta. Kami berdua hendak pergi ke suatu tempat bersama sepupu suami saya yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Karena masih anak-anak, sepupu suami saya minta duduk dipangkuan saya yang notabene berada di kursi penumpang depan (oke, secara hukum ini salah).

Singkat kata, kami tiba di sebuah persimpangan dan berencana hendak lurus. Persimpangan tersebut dilengkapi dengan sebuah papan rambu lalu lintas bertuliskan "Lurus Jalan Terus" (untuk jalur kami), lampu lalu lintas dan alat hitung mundur (timer count-down). Saat jarak mobil 100m, angka di alat hitung mundur menunjukkan masih 2 detik. Sehingga suami saya akhirnya memutuskan untuk menginjak gas sedikit lebih dalam alih-alih berpindah pada pedal rem. Namun karena jalan sedikit padat, mobil kami baru melewati marka dan zebra cross saat angka menunjukkan angka 0 dan lampu berubah menjadi kuning.

Kami berdua yang ngakunya sudah memiliki SIM A, tidak merasa ada yang salah dan bersikap biasa bahkan mewajarkan. Namun hal yang tak terduga datang dari sepupu kecil kami, saat itu dia protes, "Mas Dony melanggar lampu merah! Itu tadi kan lampunya udah kuning. Kata Bu Guru sama Bunda, kalau lampunya kuning harus hati-hati! Bukan ngebut!"

Jeng... jeng...!!

Yas! Kami dinasihati oleh anak TK! Malu? JELAS! Tapi masalahnya adalah... sepupu kecil kami itu benar dan kami salah. Dan sungguh itu adalah tamparan yang keras untuk kami yang sudah merasa dewasa.

Dan sekarang, saat kami sudah menikah dan hijrah ke ibu kota, rasa-rasanya mayoritas orang melanggar lalu lintas menjadi sangat wajar. Bahkan kalau tidak ikutan melanggar dianggap salah.

Pernah suatu ketika di Perempatan "Junk-Food-Street" Duren Sawit, lampu sudah berubah menjadi merah (Yang kalau kata sepupu kecil saya itu berarti berhenti). Seperti kebiasaan saya di Jogja, saya berhenti di belakang garis marka sembari menunggu lampu berubah menjadi hijau. Awalnya tidak terlalu banyak kendaraan di kanan-kiri saya, terutama di sisi kiri karena saya hanya menyisakan celah kurang-lebih 40 cm antara saya dengan trotoar. Namun setelah beberapa detik akhirnya ada mobil yang berhenti di samping kanan saya. Kemudian disusul oleh motor-motor yang berjubel.

Motor-motor yang berdatangan tersebut berusaha mencari celah agar bisa berhenti di depan marka bahkan di depan zebra cross. Saya memasang tampang sebodo-amat terhadap peristiwa tersebut. Karena di kota ini hal demikian dimaklumi namun setidaknya saya tidak mau mengikuti. Hingga suatu ketika ada sebuah motor berhenti tepat di samping kiri-belakang saya lalu membunyikan klakson seraya berkata, "Mbak, maju aja nggak papa!" kata bapak itu sambil memberikan isyarat kepada saya untuk maju ke zebra cross.

Saya memasang muka keheranan (yang memang sedikit dibuat-buat hahaha!) lalu berkata, "Nggak pak, monggo Bapak saja!" jawab saya sambil sedikit memiringkan motor agar bapak itu mendapatkan ruang yang lebih untuk mencapai tujuannya.

Dan tau apa hasilnya? Bapak itu diam dan tersenyum kecut mendengar jawaban saya. Setelah itu ia diam menunggu hingga lampu berubah menjadi hijau dan saya bergerak maju. Disini saya merasa menang!

Kejadian tersebut tidak hanya sekali dua kali terjadi. Dan dari situ saya berpikir, sebenarnya bagaimana cara mereka mengajarkan kepada anak/adik/murid/siapapun-itu caranya membaca rambu lalu lintas. Apakah mereka akan berkata: hijau itu jalan, kuning itu tambah gas, merah itu gas pol! Atau kah: kendaraan berhenti di zebra cross, yang jalan kaki capoera aja.

Begitukah? Entahlah. Semoga mereka sehat.


Love,
Mrs. Don Juna

No comments:

Powered by Blogger.